Archive for the ‘Kliping’ Category

h1

Asal usul Desa Jonggrangan

February 23, 2017

gapura

Desa Jonggrangan berada di lokasi strategis di Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. Fasilitas umum yang berada di Desa Jonggrangan tergolong komplet. Di desa ini, terdapat Masjid Agung Al Aqsha Klaten, GOR Gelarsena Klaten, SMAN 3 Klaten, Sendang Simbar Joyo Klaten, dan sebagainya.

Di zaman dahulu, Desa Jonggrangan dikenal sebagai daerah congkrang. Sebutan daerah tersebut didasarkan pada latar belakang desa yang kekurangan bahan makanan. Lahan pertanian di Jonggrangan seluas kurang lebih 21.644 hektare dinilai belum membuahkan hasil maksimal bagi warga setempat. Seiring berkembangnya waktu, sebutan congkrang itu berubah menjadi Jonggrangan.

“Kalau mendengar cerita turun-temurun dari sesepuh desa memang seperti itu ceritanya. Jadi, daerah di Jonggrangan ini dahulu dikenal daerah yang kurang dilihat dari hasil pertaniannya,” kata Kepala Desa Jonggrangan, Sunarna, Jumat (3/2/2017).

Jonggrangan berjarak kurang lebih 2,5 kilometer dari pendapa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten. Jumlah dukuh di Jonggrangan mencapai 10 dukuh, yakni Jonggrangan, Jonggrangan Baru, Botokan, Badegan, Dendengan, Jampen, Pundungan, Belang Kulon, Manahan, dan Sunggingan.

Di bagian utara Jonggrangan berbatasan dengan Mayungan Kecamatan Ngawen, di bagian selatan berbatasan dengan Karanganom Kecamatan Klaten Utara, di bagian timur berbatasan dengan Belang Wetan Kecamatan Klaten Utara, dan di sebelah barat berbatasan dengan Gergunung Kecamatan Klaten Utara.

“Sebagian warga di Jonggrangan masih mendengar cerita tentang asal-usul desa dari sebutan congkrang,” kata Sunarna.

Dia mengatakan Desa Jonggrangan saat ini sudah sangat berkembang, baik dari segi pembangunan fisik atau pun pemberdayaan masyarakat. Jonggrangan yang memiliki luas permukiman 47.358 hektare itu dihuni 4.343 jiwa.

“Salah satu sumber irigasi di Jonggrangan, yakni Sendang Simbar Joyo Klaten. Lokasinya di Gempur. Setiap jumat I di bulan Suro, biasanya dilakukan bersih desa. Saat ini, masyarakat di sini sudah sejahtera. Tak hanya mengandalkan di bidang pertanian, tapi sudah banyak yang berkecimpung di luar pertanian,” katanya.

Sunarna mengatakan potensi desa di Jonggrangan di luar pertanian, yakni home industry roti, mebel, pembuatan gypsum, kerajinan tas, dan pembuatan rambak.

“Ke depan, kami juga ingin membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan. Pengelolaan sendang akan terus dikembangkan agar dapat menarik perhatian wisatawan. Ini untuk menegaskan lagi bahwa Jonggrangan saat ini bukan daerah congkrang meski cerita pemberian nama Jonggrangan berasal dari kata itu,” katanya.

sumber : http://www.solopos.com/2017/02/18/asal-usul-asale-jonggrangan-klaten-dahulu-daerah-congkrang-794215

Advertisements
h1

Surat Edaran Ditjen GTK Tentang Linieritas Kualifikasi Akademik Dalam Kepangkatan Guru

January 1, 2016

Kaitannya dengan Linieritas Kualifikasi Akademik bagi guru S1, Kemendikbud telah mempublikasikan surat Edaran tentang Linieritas Kualifikasi Akademik Dalam Kepangkatan Guru dengan nomor 134741/B.BI.3/HK/2015 tertanggal 14 Desember 2015 yang ditujukan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Kepala Kantor Regional BKN, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Sehubungan dengan beragamnya interpretasi terhadap kualifikasi akademik A1/D-IV bagi guru, sertifikat pendidik,inieritas antara kualifikasi akademik dengan kepemilikan sertifikat pendidik, dan karir pengawas sekolah ada 4 poin yang harus diperhatikan.

Pertama, Kualifikasi Akademik dan sertifikasi guru diatur berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang guru, dan Pedoman Pelaksanaan Sertifikasi Guru.

Kedua, Ketentuan Karir dan kepangkatan guru dan pengawas sekolah diatur dalam ketentuan PermenagPAN dan RB nomo 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 35 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka kreditnya, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 tahun 2014 tentang Petunjuk teknis Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.

Surat Edaran Kemendikbud Tentang Linieritas Kualifikasi Akademik Dalam Kepangkatan Guru

Ketiga, mengacu pada ketentuan angka 1 dan 2 di atas, perlu diperhatikan beberapa hal berikut :
1. Guru yang mengajar linier dengan sertifikat pendidiknya, akan tetapi sertifikat pendidiknya tidak linier dengan kualifikasi akademiknya, tidak dipersyaratkan untuk mengikuti pendidikan S1 kedua yang linier dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya.
2. Bagi guru dalam jabatan yang diangkat sebelum berlakunya Undang-Undang Nomo 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dapat mengikuti sertifikati pendidik tanpa mempertimbangkan kesesuaian antara/linieritas antara kualifikasi akademik yang dimiliki dengan mata pelajaran/bidang tugas yang diampu, sepanjang guru yang bersangkutan mempunyai pengalaman mengampu bidang/mata pelajaran tersebut paling sedikit 5 tahun.
3. Bagi guru yang diangkat sejak berlakunya Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang akan mengikuti sertifikasi pendidik, harus sesuai dengan kualifikasi akademik S1 atau lebih dari S1 yang dimilikinya..
4. Bagi guru yang bersertifikat pendidik yang diangkat sampai tahun 2015, dapat mengajukan kenaikan pengkat sampai dengan pangkat tertinggi di dalam jenjang kepangkatan guru sepanjang mengajar sesuai dengan bidang/mata pelajaran pada sertifikat pendidikanya walaupun tidak linier dengan kualifikasi akademiknya. Dengan kepemilikan sertifikat pendidik tersebut, guru dinyatakan sebagai guu profesional dan sah atau linier dengan mata pelajaran yang diampunya.
5. Bagi guru yang belum S1/D4 sampai akhir tahun 2015,kenaikan pangkat dan jabatannya telah diatur dalam PermenagPN dan RB nomor 16 tahun 2009 pasal 40 dan pasal 41.

Keempat, bagi pengawas sekolah yang bukan berasal dari jalur guru, sepanjang sudah memiliki sertifikat pendidik dan melaksanakan tugas kepengawasan sesuai dengan sertifikat pendidikanya dapat mengajukan kenaikan pangkat sesuai dengan ketentuan PermenagPAN dan RB nomor 21 tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas dan Angkat Kreditnya dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 143 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pengawas dan Angka Kreditnya.

sumber : http://wimaogawa.blogspot.co.id

h1

Bagaimana Mengelola Uang THR Secara Tepat?

July 6, 2015

Memasuki bulan penuh berkah, tidak luput juga dengan masuknya uang THR (Tunjangan Hari Raya) ke kantong Anda atau bisa disebut juga dengan gaji ke-13. Biasanya THR diberikan dua minggu sebelum hari raya berlangsung. Anda yang berhak mendapatkan THR jika telah bekerja dan memiliki masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih mendapatkan THR sebesar 1 bulan upah. Sedangkan, Anda yang baru memiliki masa kerja 3 bulan tetapi kurang dari 12 bulan diberikan secara proporsional dengan masa kerja yaitu dengan perhitungan masa kerja/12 x 1 bulan upah. Dengan adanya jeda waktu sampai hari raya berlangsung, Anda seharusnya bisa menganggarkan uang THR dengan baik, sehingga pengeluaran yang ada pun tidak menguras uang THR Anda. Seharusnya THR dipergunakan sebagai sumber dana untuk membiayai belanja yang timbul akibat Hari Raya itu sendiri. Sedangkan jenis biaya rutin tetap mengandalkan sumber dana dari pendapatan yang biasa diperoleh.

1. Rencanakan anggaran

Rencanakan anggaran secara cermat, tetapi jangan sama kan dengan anggaran pengeluaran bulanan Anda. THR digunakan untuk membeli kebutuhan yang berkaitan dengan hari raya, seperti; zakat atau pun rencana pulang ke kampung halaman. Jangan berlebihan dalam membeli kebutuhan untuk makanan atau pakaian baru untuk hari raya.

2. Dana tak terduga

Jika Anda memang merencanakan untuk mudik atau pulang kampung, sediakan dana tak terduga, untuk keperluan Anda di kampung halaman nantinya. Misalkan dana untuk makan, tempat tinggal (Jika memang tidak tinggal bersama sanak saudara), atau pun uang pecahan kecil untuk Anda bagikan kepada keponakan-keponakan Anda.

3. Tentukan skala prioritas

Berikan point pada setiap kebutuhan, misalnya point terhadap kebutuhan yang memang harus dibayarkan seperti; zakat. Lalu point kedua adalah kebutuhan yang bisa dibiayai setelah semua kebutuhan wajib untuk hari raya telah terpenuhi.

4. Bayar utang

Dengan menggunakan dana THR, Anda dapat membayar sisa-sisa utang Anda, walaupun risikonya Anda tidak dapat menggunakan THR Anda secara penuh, tetapi, setidaknya Anda lega bahwa utang-utang Anda telah dilunasi.

5. THR untuk asisten rumah tangga

Persiapkan THR untuk mereka yang membantu bekerja di rumah Anda, seperti; asisten rumah tangga, sopir bahkan pembersih kebun. Jangan sampai Anda berutang THR kepada mereka.

6. Jangan gunakan kartu kredit

Jika saat ini Anda sudah berutang untuk keperluan hari raya. Sebaiknya dihentikan dulu belanjanya, hal seperti ini bisa menyebabkan Anda tidak merasakan THR yang Anda dapatkan. Terlebih lagi, jika Anda menggunakan kartu kredit, bisa membuat tagihan Anda membengkak, dan lagi-lagi tidak merasakan THR yang Anda dapat.

7. Maksimal kan Untuk Berinvestasi

Menurut para konsultan perencana keuangan, sebuah keluarga harus dapat mengelola uang THR sebagaimana mengelola gaji bulanan biasa, misalnya untuk utang tiap bulan yang ada, seperti; kartu kredit maksimal 30%, investasi minimal yang harus dikeluarkan sebesar 10%, sedangkan sisanya bisa digunakan untuk keperluan Hari Raya. Jika pengeluaran saat Hari Raya justru 2.5x lipat dari pengeluaran bulanan Anda, maka berhati-hatilah dan lakukan evaluasi secara detail karena itu akan mengganggu kesehatan neraca keuangan Anda.

 

sumber : www.aturduit.com