Archive for the ‘Kliping’ Category

h1

La Masia” Tak Sekadar Mencetak Pemain Biasa

January 7, 2018

Akademi klub Barcelona, ”La Masia”, kerap disebut salah satu akademi sepak bola terbaik di dunia. Namun, jangan membayangkan itu tempat pemain muda hanya digembleng sepak bola. ”La Masia”—yang berarti ”rumah petani”— bahkan hanya memberi porsi waktu 1 jam 45 menit per hari bagi pemainnya berlatih sepak bola pukul 19.00-20.45.
Porsi itu jauh lebih singkat ketimbang waktu mereka belajar di sekolah, yakni enam jam (08.00-14.00), dan tambahan belajar di asrama (16.00-18.00). Apa yang sebenarnya ditempa di ”La Masia” hingga jebolannya sehebat tiga finalis Pemain Terbaik Dunia 2010, Lionel Messi, Andres Iniesta, dan Xavi Hernandez?
”Itu yang mengejutkan banyak orang,” kata Carles Folguera, Direktur Asrama ”La Masia”, seperti dikutip New York Times, Juni 2011. ”Orang berpikir, pemain di sini hanya bermain sepak bola dan tidak belajar. Kami menyiapkan mereka untuk dunia olahraga, tetapi juga masa depan lainnya jika gagal di olahraga.”
Sistem pembinaan ”La Masia” memang berbeda dari model pembinaan usia muda di Amerika Serikat, yang berbasis di sekolah-sekolah. Juga berbeda dari tipikal sekolah-sekolah sepak bola di Eropa, dimana pemain sering berhenti sekolah pada usia 15 tahun untuk lebih total dan fokus di olahraga.
Sebaliknya terjadi di ”La Masia”. Menurut ofisial tim, selusin pemain Barcelona B dan juga bintang Andres Iniesta bahkan mengambil kuliah. Bagi ”La Masia”, seperti juga pembinaan usia muda Uruguay di kompleks Celeste, Montevideo, pendidikan formal di sekolah adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Di luar akhir pekan, setiap pagi anak-anak ”La Masia” berusia 7-18 tahun dijemput bus antar jemput untuk belajar di sekolah-sekolah terbaik di kota Barcelona hingga siang. Plus dua jam pelajaran tambahan di asrama, sore hari, total jam belajar anak-anak ”La Masia” itu delapan jam per hari.
”Kami mengutamakan pendidikan akademik agar mereka memiliki bekal hidup yang cukup dan akan siap jika harus bekerja di bidang lain,” kata Ruben Bonastre, Wakil Direktur Akademi ”La Masia”, dalam wawancara dengan tabloid Bola, Mei 2011. ”Memang baik mencetak pemain berkualitas, tetapi jauh lebih penting mencetak pemain dengan pribadi yang bagus,” lanjut Bonastre. ”Hanya dengan pribadi berkualitas yang akan menjelma menjadi pemain berkualitas.”
Itulah filosofi mendasar dan bukan sekadar berlatih sepak bola di ”La Masia”. Akademi itu berdiri pada 1979 atas masukan legenda Johan Cruyff yang bermain di Barcelona era 1970- an. Lewat nilai-nilai itu pula, bintang seperti Messi, Iniesta, dan Xavi dipoles dan digembleng sepak bola.
Sebelum pindah ke kompleks baru di Ciudad Deportiva, Sant Joan Despi, senilai 11 juta euro (sekitar Rp 128,8 miliar), Oktober lalu, anak-anak ”La Masia” menempati bangunan tua berusia ratusan tahun, tak jauh dari Stadion Nou Camp. Sebanyak 50 dari sekitar 210 siswa akademi itu tinggal di asrama. Sisanya, yang dari Barcelona, tinggal di rumah bersama orangtua.
”Di sini kami mendidik disiplin, teratur, kontrol diri, dan kami berusaha menunjukkan, pemain sepak bola bisa jadi bintang tanpa harus pamer,” ujar Folguera kepada BBC.
Tidak semua pemain ”La Masia” mendapat tempat di tim utama Barcelona. Namun, akademi itu telah menyiapkan masa depan mereka. Yang pasti, lewat sistem pembinaan usia muda di ”La Masia”, Barcelona tidak kekurangan para calon bintang.
Setelah Xavi dan Iniesta, sudah muncul generasi baru ”La Masia”, seperti Thiago Alcantara (20 tahun), Marc Muniesa (19), Sergi Roberto (19), Martin Montoya (20), dan Marc Bartra (20). Di bawah mereka, siap menyusul bocah berusia 14 tahun asal Korea Selatan, Park Sheung-Ho, yang oleh koran-koran lokal Barcelona disebut ”Messi baru berikutnya”.

Sumber : http://bola.kompas.com/read/2012/01/07/12264331/.La.Masia.Tak.Sekadar.Mencetak.Pemain.Biasa

Advertisements
h1

Asal usul Desa Jonggrangan

February 23, 2017

gapura

Desa Jonggrangan berada di lokasi strategis di Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. Fasilitas umum yang berada di Desa Jonggrangan tergolong komplet. Di desa ini, terdapat Masjid Agung Al Aqsha Klaten, GOR Gelarsena Klaten, SMAN 3 Klaten, Sendang Simbar Joyo Klaten, dan sebagainya.

Di zaman dahulu, Desa Jonggrangan dikenal sebagai daerah congkrang. Sebutan daerah tersebut didasarkan pada latar belakang desa yang kekurangan bahan makanan. Lahan pertanian di Jonggrangan seluas kurang lebih 21.644 hektare dinilai belum membuahkan hasil maksimal bagi warga setempat. Seiring berkembangnya waktu, sebutan congkrang itu berubah menjadi Jonggrangan.

“Kalau mendengar cerita turun-temurun dari sesepuh desa memang seperti itu ceritanya. Jadi, daerah di Jonggrangan ini dahulu dikenal daerah yang kurang dilihat dari hasil pertaniannya,” kata Kepala Desa Jonggrangan, Sunarna, Jumat (3/2/2017).

Jonggrangan berjarak kurang lebih 2,5 kilometer dari pendapa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten. Jumlah dukuh di Jonggrangan mencapai 10 dukuh, yakni Jonggrangan, Jonggrangan Baru, Botokan, Badegan, Dendengan, Jampen, Pundungan, Belang Kulon, Manahan, dan Sunggingan.

Di bagian utara Jonggrangan berbatasan dengan Mayungan Kecamatan Ngawen, di bagian selatan berbatasan dengan Karanganom Kecamatan Klaten Utara, di bagian timur berbatasan dengan Belang Wetan Kecamatan Klaten Utara, dan di sebelah barat berbatasan dengan Gergunung Kecamatan Klaten Utara.

“Sebagian warga di Jonggrangan masih mendengar cerita tentang asal-usul desa dari sebutan congkrang,” kata Sunarna.

Dia mengatakan Desa Jonggrangan saat ini sudah sangat berkembang, baik dari segi pembangunan fisik atau pun pemberdayaan masyarakat. Jonggrangan yang memiliki luas permukiman 47.358 hektare itu dihuni 4.343 jiwa.

“Salah satu sumber irigasi di Jonggrangan, yakni Sendang Simbar Joyo Klaten. Lokasinya di Gempur. Setiap jumat I di bulan Suro, biasanya dilakukan bersih desa. Saat ini, masyarakat di sini sudah sejahtera. Tak hanya mengandalkan di bidang pertanian, tapi sudah banyak yang berkecimpung di luar pertanian,” katanya.

Sunarna mengatakan potensi desa di Jonggrangan di luar pertanian, yakni home industry roti, mebel, pembuatan gypsum, kerajinan tas, dan pembuatan rambak.

“Ke depan, kami juga ingin membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan. Pengelolaan sendang akan terus dikembangkan agar dapat menarik perhatian wisatawan. Ini untuk menegaskan lagi bahwa Jonggrangan saat ini bukan daerah congkrang meski cerita pemberian nama Jonggrangan berasal dari kata itu,” katanya.

sumber : http://www.solopos.com/2017/02/18/asal-usul-asale-jonggrangan-klaten-dahulu-daerah-congkrang-794215

h1

Surat Edaran Ditjen GTK Tentang Linieritas Kualifikasi Akademik Dalam Kepangkatan Guru

January 1, 2016

Kaitannya dengan Linieritas Kualifikasi Akademik bagi guru S1, Kemendikbud telah mempublikasikan surat Edaran tentang Linieritas Kualifikasi Akademik Dalam Kepangkatan Guru dengan nomor 134741/B.BI.3/HK/2015 tertanggal 14 Desember 2015 yang ditujukan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Kepala Kantor Regional BKN, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Sehubungan dengan beragamnya interpretasi terhadap kualifikasi akademik A1/D-IV bagi guru, sertifikat pendidik,inieritas antara kualifikasi akademik dengan kepemilikan sertifikat pendidik, dan karir pengawas sekolah ada 4 poin yang harus diperhatikan.

Pertama, Kualifikasi Akademik dan sertifikasi guru diatur berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang guru, dan Pedoman Pelaksanaan Sertifikasi Guru.

Kedua, Ketentuan Karir dan kepangkatan guru dan pengawas sekolah diatur dalam ketentuan PermenagPAN dan RB nomo 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 35 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka kreditnya, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 tahun 2014 tentang Petunjuk teknis Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.

Surat Edaran Kemendikbud Tentang Linieritas Kualifikasi Akademik Dalam Kepangkatan Guru

Ketiga, mengacu pada ketentuan angka 1 dan 2 di atas, perlu diperhatikan beberapa hal berikut :
1. Guru yang mengajar linier dengan sertifikat pendidiknya, akan tetapi sertifikat pendidiknya tidak linier dengan kualifikasi akademiknya, tidak dipersyaratkan untuk mengikuti pendidikan S1 kedua yang linier dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya.
2. Bagi guru dalam jabatan yang diangkat sebelum berlakunya Undang-Undang Nomo 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dapat mengikuti sertifikati pendidik tanpa mempertimbangkan kesesuaian antara/linieritas antara kualifikasi akademik yang dimiliki dengan mata pelajaran/bidang tugas yang diampu, sepanjang guru yang bersangkutan mempunyai pengalaman mengampu bidang/mata pelajaran tersebut paling sedikit 5 tahun.
3. Bagi guru yang diangkat sejak berlakunya Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang akan mengikuti sertifikasi pendidik, harus sesuai dengan kualifikasi akademik S1 atau lebih dari S1 yang dimilikinya..
4. Bagi guru yang bersertifikat pendidik yang diangkat sampai tahun 2015, dapat mengajukan kenaikan pengkat sampai dengan pangkat tertinggi di dalam jenjang kepangkatan guru sepanjang mengajar sesuai dengan bidang/mata pelajaran pada sertifikat pendidikanya walaupun tidak linier dengan kualifikasi akademiknya. Dengan kepemilikan sertifikat pendidik tersebut, guru dinyatakan sebagai guu profesional dan sah atau linier dengan mata pelajaran yang diampunya.
5. Bagi guru yang belum S1/D4 sampai akhir tahun 2015,kenaikan pangkat dan jabatannya telah diatur dalam PermenagPN dan RB nomor 16 tahun 2009 pasal 40 dan pasal 41.

Keempat, bagi pengawas sekolah yang bukan berasal dari jalur guru, sepanjang sudah memiliki sertifikat pendidik dan melaksanakan tugas kepengawasan sesuai dengan sertifikat pendidikanya dapat mengajukan kenaikan pangkat sesuai dengan ketentuan PermenagPAN dan RB nomor 21 tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas dan Angkat Kreditnya dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 143 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pengawas dan Angka Kreditnya.

sumber : http://wimaogawa.blogspot.co.id