h1

Hikmah Ramadan dan Kemerdekaan dalam Berpolitik

August 16, 2012

Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah dimana terbuka berbagai kesempatan bagi manusia, khususnya ummat Muslim, untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. Bulan ini menjadi peristiwa yang sangat spesial bagi seluruh warga negara Indonesia mengingat pada saat yang bersamaan, yaitu tepatnya pada tanggal 17 Agustus, bangsa ini merayakan kemerdekaan. Ramadhan dan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia dapat dijadikan momentum yang sangat tepat untuk kembali memperbaiki diri demi tercapainya cita-cita Indonesia yang maju, adil dan sejahtera.

Ramadan dan kemerdekaan memiliki esensi yang sama yaitu bertujuan membebaskan manusia dari segala sesuatu yang membelenggu dirinya, baik itu yang berasal dari orang lain ataupun yang berasal dari dirinya sendiri. Ramadan bertujuan untuk membebaskan manusia dari hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia kepada kehancuran, sedangkan kemerdekaan bertujuan membebaskan manusia dari penjajahan yang dapat menghancurkan kehidupan sebuah bangsa.

Meskipun secara de jure (hukum) Bangsa Indonesia sudah merdeka namun secara de facto (fakta) bangsa ini belum sepenuhnya merdeka, karena belum terbebasnya masyarakat dari kemiskinan dan keterbelakangan. Perilaku korupsi dikalangan para pejabat negara, pemerintahan dan politisi telah mengakibatkan terjadinya dua bencana kemiskinan, yaitu pertama kemiskinan materi bagi sebagian Bangsa Indonesia sehingga berakibat pada rendahnya kesejahteraan, dan kedua kemiskinan akhlak atau nurani bagi mereka yang melakukan korupsi itu sendiri.

Persoalan korupsi dikalangan pejabat dan politisi menjadi hal perlu dibenahi karena korupsi merupakan perilaku manusia yang mengedepankan syahwat duniawi dan materi, perilaku ini dapat menjadi salah satu malapetaka yang menghancurkan manusia, tidak hanya untuk individu yang melakukan korupsi tetapi juga terhadap orang lain. Ramadan dengan nilai-nilai religiusitasnya memperingatkan manusia, khususnya ummat Islam, untuk melepaskan diri dari berbagai pengaruh syahwat duniawi termasuk materi karena hal itu akan berdampak buruk baginya dan orang lain.

Mengacu kepada makna tersebut di atas maka bulan Ramadan seharusnya dapat memberikan perubahan dan hikmah kepada para pejabat dan politisi bahwa perilaku korup merupakan perilaku yang harus ditinggalkan. Betapa korupsi telah merugikan negara dan bangsa Indonesia, tidak hanya secara materi tetapi juga mental dan budaya, yaitu dengan hancurnya nilai-nilai moral kebangsaan yang ditanamkan oleh para pendiri Republik Indonesia.

Kaitannya dengan momentum kemerdekaan Indonesia yang sudah berjalan 67 tahun, yaitu kemerdekaan yang dicetuskan para pendiri bangsa bukan hanya ditujukan untuk memberi kebebasan dan kenikmatan bagi segelintir orang atau golongan tetapi untuk semua Bangsa Indonesia. Perlu ditanamkannya kesadaran bahwa kekuasaan yang diemban oleh para pejabat dan politisi merupakan amanah rakyat, agar ucapan dan sikap yang dilakukan para pejabat tidak membuat rakyat gelisah dan khawatir. Untuk itu diperlukan juga adanya kontrol diri untuk menghindari munculnya tindakan yang didasari oleh keserakahan hawa nafsu.

Ramadan dan Politics is a Good Life

Puasa dalam bulan suci Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus tetapi juga menahan hawa nafsu, puasa juga dapat dimaknai sebagai proses dalam rangka membawa keberkahan bagi ummat manusia yang didalamnya terkandung nilai-nilai kebaikan bersama dan sama halnya dengan kemerdekaan yang ditujukan untuk kebaikan bersama bangsa Indonesia. Sejatinya politik menurut Aristoteles (Bapak Ilmu Politik) bertujuan untuk kebaikan hidup manusia “Politics is a Good Life”, karenanya para politisi dan pemimpin negeri perlu memahami bahwa politik tidak hanya sekadar memperoleh, menggunakan dan mempertahankan kekuasaan tetapi menjalankannya untuk kebaikan masyarakat.

Jika negara ini sudah dikatakan sebagai “Negara Auto Pilot” dimana para pemimpinnya sudah tidak lagi menjalankan negara dan tidak lagi mengurus rakyatnya, sebab mana mereka lebih disibukan dengan urusan mengejar syahwat duniawi maka mereka tidak lagi dapat dikatakan sebagai politisi sejati. Bukan tidak mungkin dengan perilaku mereka yang tidak bertanggung jawab dan lebih senang mengejar materi dengan melakukan korupsi, suatu saat dapat menyebabkan negara ini lambat laun akan jatuh bagaikan pesawat yang auto pilot dan mengorbankan seluruh penumpang yang ada didalamnya.

Jikalau terjadi hal demikian maka apa yang direncakanan dan diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dengan berbagai pengorbanannya akan menjadi sia-sia. Siapapun tentu menginginkan hal itu tidak terjadi, namun perlu sebuah kesadaran khususnya bagi mereka para pemegang kekuasaan dan juga mereka yang mengaku sebagai politisi sejati. Sebab politik bukanlah hal yang kotor atau jahat sebagaimana banyak dibicarakan orang maka kekuasaan haruslah berorientasi pada politics is a good life yang membawa kebaikan layaknya bulan ramadan.

Sebelum memasuki bulan Ramadan mungkin masih dapat kita lihat perilaku beberapa pejabat negara, termasuk para politisi di DPR, yang masih tergoda dengan kenikmatan jabatan. Namun dengan masuknya bulan suci ini dan adanya momentum kemerdekaan diharapkan para pejabat negara dapat menjadi politisi sejati dalam arti yang sesungguhnya, yaitu dengan menghindari tindakan-tindakan yang mengumbar hawa nafsu. Semoga perilaku ini tidak hanya bertahan selama sebulan pelaksanaan puasa melainkan dapat terus dilakukan diluar bulan ramadan agar keberkahannya dapat terus dirasakan oleh bangsa Indonesia.

 

Oleh YUSA DJUYANDI
sumber : Harian umum Tabengan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: