h1

Triyaningsih, “Pesan” dari Salatiga

November 15, 2011

Hattrick Triyaningsih meraih medali emas SEA Games — Palembang 2011, Laos 2009, Nakorn Ratchasima 2007 — di nomor lari 10.000 meter dan 5.000 meter, patut dicatat sebagai prestasi langka dalam sejarah olahraga atletik kita. Sukses itu secara tidak langsung juga menjadi “pesan” bagi dunia atletik Indonesia untuk menoleh ke Salatiga, kota yang selama tiga dasawarsa terakhir menjadi penyumbang produktif atlet-atlet lari nasional, khususnya untuk nomor-nomor jarak jauh. Menoleh dalam pengertian bagaimana seharusnya kita memaknai capaian itu.

Dari Salatiga, kita mengenal dua nama yang menjadi patron: Yon Daryono dan Alwi Mugiyanto, pelatih klub Dragon dan Lokomotif di samping nama-nama “pengabdi” atletik lainnya. Patronase itu juga membangun image— dengan segala plus-minusnya — Yon dan Alwy sebagai “godfather”-nya atlet-atlet lari yang seperti selalu dimunculkan dari Salatiga. Triyaningsih boleh disebut sebagai puncak karya klub Lokomotif, setelah sebelumnya sang kakak, Ruwiyati juga men salah satu bintang Indonesia di nomor lari jarak jauh di berbagai event.

Memberi dukungan total bagi suatu daerah untuk menjadi basis pembinaan yang khas pada cabang olahraga tertentu, juga untuk nomor-nomor tertentu, kiranya merupakan model yang bisa dipilih oleh otoritas olahraga nasional. Kudus, misalnya, identik dengan bulu tangkis. Kediri pernah lekat dengan tenis meja, atau Lampung dahulu menjadi “kandang” cabang angkat besi dan angkat berat. Penting menciptakan model kantung pembinaan semacam ini, terkait dengan pemetaan biaya, promosi daerah, serta membangun kultur cabang olahraga tertentu di suatu daerah.

Kisah sukses atlet seperti Triyaningsih menjadi public relations pembinaan yang bagus bagi suatu daerah dan klub. Seharusnyalah ini menginspirasi anak-anak muda di Salatiga, Jawa Tengah, dan nasional untuk menjadikan sang pelari sebagai role model. Pengorbanan Triya memilih atletik sebagai “jalan hidup”, mendedikasikan masa-masa remajanya untuk menempa diri, kini memperoleh imbalan prestasi yang sepadan. Pencapaian itu juga mengangkatnya secara sosial, karena ia mendapat apresiasi dari induk organisasi atletik, KONI, dan pemerintah.

Hubungan antara atlet, pelatih, pembina, klub, dan daerah harus berjalin membentuk orkestrasi rancak menuju ke satu muara. Interaksi itu memsyaratkan atmosfer pembinaan yang kondusif, agar atlet tidak ragu-ragu menekuni pilihan jalan hidupnya, dan mempunyai gambaran capaian kehidupannya di depan akan seperti apa. Jaminan seperti inilah yang harus dibangun, walaupun tentu tidak semua klub dan daerah bisa mencapainya secara ideal. Pada segi-segi tertentu, dengan semua plus-minusnya, Triyaningsih berada dalam atmosfer pembinaan demikian.

Fakta bahwa Salatiga bisa menelurkan pelari sehebat Triyaningsih mesti menggugah para pembina untuk menjadikannya sebagai model. Artinya, trek pembinaan di klubnya dan daerah ini sudah benar. Kekurangan apa yang masih ada tentulah Triya dan pelatihnya yang merasakan. Pencapaian di SEA Games Ke-26 ini tepat dijadikan momentum untuk menyempurnakan sistem dan aplikasinya. Semua paham, proses kelahiran seorang bintang sekelas Triyaningsih tidak seperti membalik telapak tangan. Dibutuhkan  waktu, ketekunan, kerja keras, dan pengorbanan.

 

sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/11/15/166640/10/Triyaningsih-Pesan-dari-Salatiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: