h1

Layakkah Riset Level S 1 ?

August 24, 2011

Beberapa bulan yang lalu, Eropa dikejutkan oleh tuduhan plagiat dua pejabat tinggi publik di dua negara. Keduanya terpaksa mundur.

Setahu saya, seorang diantaranya menolah tuduhan tersebut, tetapi toh akhirnya mundur. Pada tahun 2010 dunia pendidikan Indonesia dikejutkan oleh tindakan plagiat seorang eks mahasiswa doktoral, yang berujung pada pencabutan gelar doktornya. Kita dapat menyimpulkan bahwa membuat penelitian itu sangat berat. Tindakan plagiat di negara-negara maju Eropa jadi bukti bahwa penelitian sangat sulit dilakukan.

Akademisi di Indonesia umumnya tidak peduli pada hal beratnya penelitian yang mengakibatkan kasus-kasus plagiat seperti di atas. Mereka sibuk dengan mengharuskan mahasiswa membuat skripsi. Mahasiswa S1, bahkan mahasiswa D3 sampai, diwajibkan melakukan penelitian. Saya curiga, jangan-jangan mahasiswa D2 dan D1 pun harus melakukannya. Sanggahan sperti “skripsi mahasiswa diploma bukan penelitian” harus dicek. Kalau di daftar isi ada bab “Metode Penelitian”, bukankah itu dianggap penelitian?

Mahasiswa diwajibkan membuat skripsi, mulai dari D3 sampai S3. Sebenarnya tidak masuk akal mengharuskan mahasiswa diploma membuat skripsi, membuat pendidikan diploma tidak ada bedanya dengan pendidikan sarjana. Nah, bagaimana dengan pendidikan level sarjana sendiri, persisnya S1? Riset untuk pendidikan informatika dan sejenisnya pada level S1 tidak layak. Saya mendaftarkan delapan alasan.

Alasan pertama, kebanyakan dosen tidak melakukan riset. Saya pernah melihat presentase research paper dari beberapa dosen di sebuah acara. Sangat mengherankan bahwa yang mereka anggap riset sama sekali tidak layak dianggap riset. Dosen seperti ini menyebarkan sifat munafik dalam hal penelitian kepada anak didiknya. Bila anak didiknya menjadi dosen, sifat ini diturunakan dan inilah yang sering terjadi.

Alasan kedua, mahasiswa tidak diberi kemampuan membuat definisi atau mempertimbangkan baik buruknya definisi. Tidak mengherankan bahwa dalam skripsi, mereka pamer istilah seperti ERD, DFD, bla-bla-bla, tetapi saat ditanya, “Apa itu entitas?” cuma bisa garuk-garuk kepala, senyum-senyum, atau asal jawab (plus ngotot bila perlu)

Alasan ketiga, mahsiswa tidak diajarkan membandingkan dengan cara yang baik. Jadi, kalau membandingkan REST dengan SOAP misalnya, perbandingan itu cuma asal kutip atau asal buat. Dalam sidang juga bisa terjadi adu ngotot (baca:debat kusir) kalau dosen penguji punya fanatisme terhadap suatu pendekatan atau produk. Kedua pihak sering tidak tahu cara membandingkan yang faktual tanpa perlu perdebatan.

Alasan keempat, mahsiswa tidak dilatih untuk menulis. Saya pasti bekerja keras membimbing sekalipun mahasiswanya pernah menulis di media massa. Menulis tulisan formal tetap bukan hal yang biasa dilakukan mahasiswa.

Alasan kelima, mahasiswa sering dipaksa masuk ke bidang yang mereka tidak tekuni dalam waktu yang sangat singkat. Seorang mahasiswaa pernah ingin membuat tugas akhir terkait computer version. Saya bertanya apakah dasar matematika dia kuat, seberapa banyak pelajaran pendukung tugas akhir itu sudah dia ikuti. Ternyata dasar matematika dia lemah dan dia tidak mengikuti beberapa pelajaran pendukung. Saya anjurkan untuk tidak menulis “penelitian” tentang topik tersebut. Itu bisa menyengsarakan mahsiswa tersebut dan dosen pembimbingya – dosen yang serius tentu saja.

Alasan keenam, literatur. Manejemen perguruan tinggi biasanya mencantumkan syarat-syarat untuk literatur, misalnya sepuluh buku teks dalam bahasa Inggris. Apakah ini masuk akal? Padahal, harga buku teks mahal, hampir pasti tidak tersedia di buku perpustakaan.

Alasan ketujuh, mahasiswa dihadapkan pada birokrasi yang sangat mempersulit. Seorang mahasiswa saya yang melakukan “penelitian” untuk membuat aplikasi belajar bagi anak SD, menghadapi tiga masalah – tidak memahami konten dan cara berpikir guru SD (alasan kelima), kesulitan mendapatkan literatur tentang human machine interface (alasan keenam), dan dipingpong untuk minta izin ke sana-kemari untuk mendapatkan data dan hal-hal lain.

Alasan kedelapan (terakhir), hasil skripsi mahasiswa sering tidak relevan dengan pekerjaan, sering cuma masuk tong sampah. Jadi, untuk apa semua pengorbanan itu?

Sumber : Benaridho I. Hutabarat, PC Media edisi 08/2011 hal 27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: